Fenomena Islam terkadang memang menarik untuk kita
kaji sebagai landasan perenungan diri, bahwa sejauh mana keimanan Islam yang kita
yakini selama ini sudah kita laksanakan. Sudahkah kita benar-benar menjadi
pribadi yang benar-benar Islam, ataukah hanya sekedar mengikuti keyakinan
berdasarkan tradisi atau mungkin bahkan secara tidak sadar kita sudah
diperbudak akal pikiran kita untuk melogikan hal-hal yang sudah jelas
ditegaskan dan dibatasi dalam Islam. Sikap merasa paling benar adalah bentuk
kesombongan diri yang tidak kita sadari telah
membawa kita kedalam lembah penghancuran terhadap nilai-nilai yang haqiqi.
Teroris atau fir’aun contohnya..
Mereka dengan sangat jelas bertindak dengan cara
selalu mengatasnamakan Tuhan. Keberadaan mereka sangat jelas dan keberadaan
mereka sangat terang kita hadapi. Yang tidak jelas adalah tingkah laku
keberagamaan sebagian dari kita yang sudah pada taraf seakan-akan menjadi
Tuhan, atau mewakili kehendak Tuhan.
Betapa tidak?
Disadari atau tidak, kita sering kali
mempertontonkan sikap saling merasa benar sendiri. Kita anggap bahwa kebenaran
itu adalah kita, milik kita, dan selalu berada di pihak kita. Pihak lain adalah
pihak yang selalu salah, adalah pihak yang sesat, ahli bid’ah dan sebagainya
dan sebagainya.
Renungkanlah, bila perbedaan itu sudah dinilai pada
tingkat mana yang boleh dan mana yang tidak boleh; atau mana yang benar dan
mana yang sesat; bukankah hal yang demikian itu sangat mengerikan? Coba
bayangkan jika ada yang berkata kepada anda bahwa anda telah sesat dalam beragama, terlebih orang yang mengatakan
demikian adalah orang yang anda anggap lebih mengerti dalam hal agama, bukankah
hal yang demikian itu begitu mengerikan buat anda? Katakanlah anda merasa ngeri
dan akhirnya anda megikuti pendapat orang yang menyesatkan anda itu, tetapi
ternyata menurut orang lain yang juga lebih mengerti dalam beragama, ternyata
yang disesatkan itu ternyata sesat itu sendiri.
Maka demikianlah...
Sampai ini ada dua kecenderungan yang semakin
menguat dalam cara keberagamaan Islam dimana menurut pendapat penulis,
masing-masing menunjukkan ekstrimitas pemikiran dan praktik keberagamaan Islam.
Istilah dibawah ini mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kawan-kawan pembaca
semua.
Kalangan Islam fundamentalis
Kalangan Islam liberalis
Saya menyadri bahwa kedua istilah ini pun sangat layak
untuk diperdebatkan. Di sini sengaja saya gunakan kedua istilah tersebut agar kita lebih mudah membedakan dua kelompok dalam keberagaman Islam yang saling
berhadap-hadapan, saling berlawanan (bahkan mungkin saling bermusuhan). Islam
fundamentalis di sini adalah mereka yang terus-menerus mencoba meng-Arabkan Islam
seakan-akan Islam adalah Arab dan Arab adalah Islam. Maksudnya, Muslim di
negeri ini di upayakan terus-menerus untuk mempraktekkan ajaran-ajaran Islam
yang selama ini berkembang di Arab (Saudi) sana. Dengan berlindung di balik
konsep ahlussunah, mereka mencabik-cabik
pemahaman yang menurut mereka salah dan sesat. Ciri utama kelompok ini adalah
anti filsafat, anti debat, sedikit-sedikit berbicara tentang bid’ah, takhayul,
khurafat dan musyrik. Mereka selalu menghantam cara-cara beragama keberagamaan
umat Islam yang tidak seperti mereka praktekkan.
Di ujung ekstrimitas yang satunya, berdiri rapat
kelompok yang mengusung tema liberalisme Islam. ciri utama mereka bukan
terletak pada fisik, bukan pulan terletak pada sistem ritus yang mereka terapkan
sehari-hari. Ciri utama mereka adalah pada ide dan gagasan. Mereka benar-benar
menghargai, menghormati, sekaligus mempraktikkan apa yang disebut dengan
kebebasan berfikir.
Dua kelompok inilah yang semakin lama semakin
merapatkan barisannya masing-masing. Pada saat-saat tertentu mereka saling menyerang. Di
saat-saat yang lain mereka meyerang kelompok lain.
Ketika sampai pada titik ini, adalah hal yang wajar
ketika kita berpendapat bahwa cara-cara keberagamaan yang seperti inilah yang
tak layak untuk ditiru dan diikuti. Islam diturunkan sebagai agama yang rahmatan lil’alamin. Artinya bahwa
keberadaan Islam adalah seharusnya sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta
yang selalu membawa keberkahan dan kedamaian bagi seluruh mahkluk Tuhan.
Pertanyaan yang sederhana namun patut kita renungkan, “dengan adanya
kelompok-kelompok seperti di atas, benarkah mereka sudah menerapkan Islam
sebagai agama yang rahmatan li’alamin?
Bagaimanapun juga, anda tidak boleh sembarangan
menjustifikasi kelompok tertentu untuk anda katakan sesat, pembuat bid’ah, syirik,
takhayul dan khurafat. Anda juga tidak bisa menghukum kelompok lain dengan
logika anda. Tetapi anda harus terus berupaya mempraktikan Al-Qur’an dan
as-Sunnah adalah benar, tentu dengan pemahaman yang tidak anti perbedaan.
Perbedaan adalah fitrah, fitrah berarti alamiah, menolak perbedaan berarti
menolak hukum alam dan menolak hukum alam sama halnya omong kosong belaka.
Pada saat yang sama, anda harus tetap meningkatkan
kemampuan berfikir. Karena itulah karunia tertinggi yang diberikan Allah berupa
akal pikiran harus terus anda asah. Tetapi jangan sampai anda menabrak hal-hal
yang jelas-jelas tidak bisa anda tabrak, merusak hal-hal yang tidak bisa
dirusak. Meragukan semuanya adalah hak buat anda, tetapi anda pun harus
bertanggung jawab untuk mendemonstrasikan hujjah-hujjah yang rasional sembari
siap pula untuk menerima kekalahan dalam berargumen.
Sungguh kita akan menjadi seolah-olah seperti Tuhan
manakala kita terus-menerus meributkan perbedaan-perbedaan dalam cara-cara
keberagamaan umat Islam ini. Kita akan menjadi musuh bagi sesama kita sendiri,
kita akan terjebak untuk saling mencaci maki, saling merendahkan, saling
menghinakan, dan bahkan saling berebut untuk saling ingin masuk surga sendiri-sendiri. Nau’dzubillah tsumma na’udzubillah….
Sudah saatnya kita tinggalkan cara berfikir yang
dikotomik seperti ini. Adalah suatu hal yang mustahil menyatukan umat manusia
dalam satu ragam berfikir, berbuat dan bertindak. Seperti halnya mustahil
seluruh manusia akan baik semua, atau jahat semua. Pelangi menjadi indah karena
banyak warnanya. Dan yang menciptakan pelangi adalah Allah SWT.
Sebagai seorang muslim, seharusnya kita sadar ada
hal-hal tertentu yang tak boleh berbeda, misalnya adalah iman kepada Allah,
iman kepada kitab suci, iman kepada perkara yang ghaib, iman kepada Rasulullah,
iman kepada hari kiamat dan iman kepada takdir. Dalam perkara pokok agama,
banyak hal dari kita yang tak boleh berbeda. Tetapi Islam tidak hanya
pokok-pokok agama saja. Islam adalah totalitas, sementara dari sudut totalitas
banyak perbedaan dari dalam cara keberagaman kita. Misalnya shalat dengan
bersedekap atau tidak, menggunakan do’a kunut atau tidak. Namun itu bukanlah
sebuah persoalan, biarkanlah hal itu tetap berjalan, mereka punya dasar juga
sebagaimana kita memiliki dasar. Kita akan menjadi Tuhan manakala kita anggap
shalat yang tidak memakai sedekap atau kunut
itu adalah shalat yang sesat. Yang pantas untuk diharamkan, dan yang
pantas masuk neraka!
Surga dan neraka biarlah menjadi urusan yang lebih
behak, yaitu Allah SWT. Daripada meributkan apakah saudara kita seiman atau
sekeyakinan pantas masuk surga atau neraka, lebih baik bermuhasabahlah anda
agar anda dijauhkan Allah dari siksa api neraka!!
Segala keindahan dan segala bentuk kelebihan adalah
semata-mata berasal hanya dari Allah, jadilah pribadi yang selalu memberikan
manfaat dengan selalu bersikap dan bervisioner seorang muslim.
Dengan ridho
Allah Yakin Usaha Sampai….
Semoga bermanfaat...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar