Jumat, 08 Januari 2016

Fenomena Islam Indonesia



Fenomena Islam terkadang memang menarik untuk kita kaji sebagai landasan perenungan diri, bahwa sejauh mana keimanan Islam yang kita yakini selama ini sudah kita laksanakan. Sudahkah kita benar-benar menjadi pribadi yang benar-benar Islam, ataukah hanya sekedar mengikuti keyakinan berdasarkan tradisi atau mungkin bahkan secara tidak sadar kita sudah diperbudak akal pikiran kita untuk melogikan hal-hal yang sudah jelas ditegaskan dan dibatasi dalam Islam. Sikap merasa paling benar adalah bentuk kesombongan diri yang tidak kita sadari  telah membawa kita kedalam lembah penghancuran terhadap nilai-nilai yang haqiqi.
Teroris atau fir’aun contohnya..

Mereka dengan sangat jelas bertindak dengan cara selalu mengatasnamakan Tuhan. Keberadaan mereka sangat jelas dan keberadaan mereka sangat terang kita hadapi. Yang tidak jelas adalah tingkah laku keberagamaan sebagian dari kita yang sudah pada taraf seakan-akan menjadi Tuhan, atau mewakili kehendak Tuhan.
Betapa tidak?
Disadari atau tidak, kita sering kali mempertontonkan sikap saling merasa benar sendiri. Kita anggap bahwa kebenaran itu adalah kita, milik kita, dan selalu berada di pihak kita. Pihak lain adalah pihak yang selalu salah, adalah pihak yang sesat, ahli bid’ah dan sebagainya dan sebagainya.
Renungkanlah, bila perbedaan itu sudah dinilai pada tingkat mana yang boleh dan mana yang tidak boleh; atau mana yang benar dan mana yang sesat; bukankah hal yang demikian itu sangat mengerikan? Coba bayangkan jika ada yang berkata kepada anda bahwa anda telah sesat dalam  beragama, terlebih orang yang mengatakan demikian adalah orang yang anda anggap lebih mengerti dalam hal agama, bukankah hal yang demikian itu begitu mengerikan buat anda? Katakanlah anda merasa ngeri dan akhirnya anda megikuti pendapat orang yang menyesatkan anda itu, tetapi ternyata menurut orang lain yang juga lebih mengerti dalam beragama, ternyata yang disesatkan itu ternyata sesat itu sendiri.

Maka demikianlah...
Sampai ini ada dua kecenderungan yang semakin menguat dalam cara keberagamaan Islam dimana menurut pendapat penulis, masing-masing menunjukkan ekstrimitas pemikiran dan praktik keberagamaan Islam. Istilah dibawah ini mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kawan-kawan pembaca semua.
Kalangan Islam fundamentalis
Kalangan Islam liberalis

Saya menyadri bahwa kedua istilah ini pun sangat layak untuk diperdebatkan. Di sini sengaja saya gunakan kedua istilah tersebut agar kita lebih mudah membedakan dua kelompok dalam keberagaman Islam yang saling berhadap-hadapan, saling berlawanan (bahkan mungkin saling bermusuhan). Islam fundamentalis di sini adalah mereka yang terus-menerus mencoba meng-Arabkan Islam seakan-akan Islam adalah Arab dan Arab adalah Islam. Maksudnya, Muslim di negeri ini di upayakan terus-menerus untuk mempraktekkan ajaran-ajaran Islam yang selama ini berkembang di Arab (Saudi) sana. Dengan berlindung di balik konsep ahlussunah, mereka mencabik-cabik pemahaman yang menurut mereka salah dan sesat. Ciri utama kelompok ini adalah anti filsafat, anti debat, sedikit-sedikit berbicara tentang bid’ah, takhayul, khurafat dan musyrik. Mereka selalu menghantam cara-cara beragama keberagamaan umat Islam yang tidak seperti mereka praktekkan. 

Di ujung ekstrimitas yang satunya, berdiri rapat kelompok yang mengusung tema liberalisme Islam. ciri utama mereka bukan terletak pada fisik, bukan pulan terletak pada sistem ritus yang mereka terapkan sehari-hari. Ciri utama mereka adalah pada ide dan gagasan. Mereka benar-benar menghargai, menghormati, sekaligus mempraktikkan apa yang disebut dengan kebebasan berfikir.
Dua kelompok inilah yang semakin lama semakin merapatkan barisannya masing-masing. Pada saat-saat  tertentu mereka saling menyerang. Di saat-saat yang lain mereka meyerang kelompok lain.
Ketika sampai pada titik ini, adalah hal yang wajar ketika kita berpendapat bahwa cara-cara keberagamaan yang seperti inilah yang tak layak untuk ditiru dan diikuti. Islam diturunkan sebagai agama yang rahmatan lil’alamin. Artinya bahwa keberadaan Islam adalah seharusnya sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta yang selalu membawa keberkahan dan kedamaian bagi seluruh mahkluk Tuhan. Pertanyaan yang sederhana namun patut kita renungkan, “dengan adanya kelompok-kelompok seperti di atas, benarkah mereka sudah menerapkan Islam sebagai agama yang rahmatan li’alamin?
Bagaimanapun juga, anda tidak boleh sembarangan menjustifikasi kelompok tertentu untuk anda katakan sesat, pembuat bid’ah, syirik, takhayul dan khurafat. Anda juga tidak bisa menghukum kelompok lain dengan logika anda. Tetapi anda harus terus berupaya mempraktikan Al-Qur’an dan as-Sunnah adalah benar, tentu dengan pemahaman yang tidak anti perbedaan. Perbedaan adalah fitrah, fitrah berarti alamiah, menolak perbedaan berarti menolak hukum alam dan menolak hukum alam sama halnya omong kosong belaka.
Pada saat yang sama, anda harus tetap meningkatkan kemampuan berfikir. Karena itulah karunia tertinggi yang diberikan Allah berupa akal pikiran harus terus anda asah. Tetapi jangan sampai anda menabrak hal-hal yang jelas-jelas tidak bisa anda tabrak, merusak hal-hal yang tidak bisa dirusak. Meragukan semuanya adalah hak buat anda, tetapi anda pun harus bertanggung jawab untuk mendemonstrasikan hujjah-hujjah yang rasional sembari siap pula untuk menerima kekalahan dalam berargumen. 

Sungguh kita akan menjadi seolah-olah seperti Tuhan manakala kita terus-menerus meributkan perbedaan-perbedaan dalam cara-cara keberagamaan umat Islam ini. Kita akan menjadi musuh bagi sesama kita sendiri, kita akan terjebak untuk saling mencaci maki, saling merendahkan, saling menghinakan, dan bahkan saling berebut untuk saling ingin masuk  surga sendiri-sendiri. Nau’dzubillah tsumma na’udzubillah.       
Sudah saatnya kita tinggalkan cara berfikir yang dikotomik seperti ini. Adalah suatu hal yang mustahil menyatukan umat manusia dalam satu ragam berfikir, berbuat dan bertindak. Seperti halnya mustahil seluruh manusia akan baik semua, atau jahat semua. Pelangi menjadi indah karena banyak warnanya. Dan yang menciptakan pelangi adalah Allah SWT.
Sebagai seorang muslim, seharusnya kita sadar ada hal-hal tertentu yang tak boleh berbeda, misalnya adalah iman kepada Allah, iman kepada kitab suci, iman kepada perkara yang ghaib, iman kepada Rasulullah, iman kepada hari kiamat dan iman kepada takdir. Dalam perkara pokok agama, banyak hal dari kita yang tak boleh berbeda. Tetapi Islam tidak hanya pokok-pokok agama saja. Islam adalah totalitas, sementara dari sudut totalitas banyak perbedaan dari dalam cara keberagaman kita. Misalnya shalat dengan bersedekap atau tidak, menggunakan do’a kunut atau tidak. Namun itu bukanlah sebuah persoalan, biarkanlah hal itu tetap berjalan, mereka punya dasar juga sebagaimana kita memiliki dasar. Kita akan menjadi Tuhan manakala kita anggap shalat yang tidak memakai sedekap atau kunut  itu adalah shalat yang sesat. Yang pantas untuk diharamkan, dan yang pantas masuk neraka!
Surga dan neraka biarlah menjadi urusan yang lebih behak, yaitu Allah SWT. Daripada meributkan apakah saudara kita seiman atau sekeyakinan pantas masuk surga atau neraka, lebih baik bermuhasabahlah anda agar anda dijauhkan Allah dari siksa api neraka!!
Segala keindahan dan segala bentuk kelebihan adalah semata-mata berasal hanya dari Allah, jadilah pribadi yang selalu memberikan manfaat dengan selalu bersikap dan bervisioner seorang muslim. 

Dengan ridho Allah Yakin Usaha Sampai….
Semoga bermanfaat...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar